Oleh: Azka Dzakiyah

Kata Istinja’ adalah aku memutuskan sesuatu. Jadi orang yang hendak bersuci itu akan memutuskan sesuatu kotoran dari dirinya.
Sebab wajibnya istinja’ yakni adanya benda yang keluar dari salah satu lubang belakang atau depan, selain mani. Menggunakan air sampai bersih tempatnya yakni bekas najis Istinja’
Istinja’ adalah aku memutuskan sesuatu. Jadi orang yang hendak bersuci itu akan memutuskan sesuatu kotoran dari dirinya.
Sebab wajibnya istinja’ yakni adanya benda yang keluar dari salah satu lubang belakang atau depan, selain mani. Menggunakan air sampai bersih tempatnya yakni bekas najisnya hilang, atau menggunakan suatu benda yang suci dan keras seperti batu, kayu dan mengecualikan makanan, tulang, kertas dan sebagainya yang dapat menyusut.
Istinja’ sudah dianggap dapat mencukupi, setelah diperkirakan bahwa najisnya telah hilang. Dengan demikian bagi seseorang tidaklah disunahkan membau ( mencium) tangannya. Istinja’ dilakukan dengan mengendorkan anggota badan, agar sisa – sisa najis tidak ada yang tertinggal di lipatan- lipatan lubang dubur.
Orang yang beristinja’ boleh meringkas yakni memilih menggunakan air saja atau dengan 3 batu saja. Jika tidak, maka hendaklah menambah jumlah bilangan batu sehingga benaar- benar bersih.
Syarat- syarat bersuci dengan batu:
a. Minimal menggunakan batu berjumlah 3 dan memiliki 3 sudut
b. Najis yang dibersihkan tidak dalam keadaan kering
c. Najis tersebut tidak berubah dari tempat keluarnya, dan
d. Tidak mendatangkan najis lain
Sunnah- sunnah bersuci ( istinja’) :
a. Melepas sesuatu yang ad suratan agung ( al- qur’an, Nama Rasul, Malaikat, dll )
b. Diam ketika buang hajat
c. Membasuh minimal sebanyak 3 kali
d. Masuk WC dengan mendahulukan kaki kiri, dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar
Larangan – larangan ketika bersuci :
a. Bersiwak
b. Meludahi kencing
c. Menghadap kiblat atau membelakanginya, kecuali di tempat- tempat yang di tentukan
d. Tidak menghadap matahari dan rembulan,
Menurut imam Nawawi dalam kitab Raudhah dan syarah kitab Muhadz- dzab “ bahwa jika membelakangi keduanya itu tidak makruh hukumnya “
Tempat- tempat yang dilarang istinja’ :
a. Perairan umum yang tidak mengalir dan menyumber
b. Di tempat bercanda milik umum
c. Di jalan
d. Di bawah pohon yang memiliki buah
e. Di tanah milik orang lain, kecuali sudah mendapat izin
f. Di lubang- lubang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *